home

 1 user sedang online
 Anda pengunjung ke-331,913


December 2012
S M T W T F S
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31          

Manusia di Taman Eden (Kejadian 2:15)

Yakub Tri Handoko, M. Th.

 

Kejadian 2:15 di atas merupakan salah satu ayat penting dalam memahami tujuan penciptaan manusia selain Kejadian 1:26-28. Setelah Allah menciptakan manusia pertama, Ia menempatkan dia di Taman Eden yang indah dan memberikan perintah khusus kepadanya. Dalam terjemahan bahasa Indonesia maupun Inggris, Kejadian 2:15 jelas menunjukkan bahwa tugas manusia di Taman Eden adalah untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Terjemahan ini ternyata lebih banyak didasarkan pada terjemahan LXX (Septuaginta) daripada teks Ibrani. Dalam teks Ibrani, tidak ada kata “taman” di ayat 15. Kata “itu” juga berbentuk feminin, sedangkan “taman” dalam bahasa Ibrani berbentuk maskulin. Untuk mengatasi masalah ini, penerjemah LXX mengganti kata ganti “itu” ke dalam bentuk maskulin, padahal dalam teks Ibrani sebenarnya feminin.

Seandainya “itu” di ayat ini memang berjenis kelamin feminin, apakah yang dimaksud dengan “itu” di sini? Berdasarkan bentuk feminin dari kata “itu” maupun konteks Kejadian 2 secara umum, tujuan Allah menempatkan manusia di Taman Eden sebaiknya dipahami untuk “melayani dan memelihara itu [perintah Allah]”. Ada beberapa argumen yang mendukung hal ini:

1.    Kata “menempatkan” di ayat 15 (wayyannihehu) berbeda dengan kata “menempatkan” di ayat 8. Kata wayyannihehu seringkali dipakai untuk merujuk “beristirahat” yang diberikan Allah kepada manusia di tanah yang dijanjikan (Kej 19:16; Ul 3:20; 12:10; 25:19) atau “menempatkan” sesuatu sebagai korban kepada Allah (Kel 16:33-34; Im 16:23; Bil 17:4; Ul 26:4, 10).

2.    Tindakan mengusahakan atau mengerjakan tanah sebelumnya dipakai sebagai rujukan pada kejatuhan manusia ke dalam dosa (2:5), karena sebelum kejatuhan tanah menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan hijau dan berbiji dengan sendirinya (1:12). Setelah kejatuhan, manusia harus bekerja keras mengerjakan tanah (3:17-19). Hal ini bukan berarti kontradiksi dengan pasal 1:28. Manusia memang harus menaklukkan bumi, tetapi hal itu tidak perlu dilakukan dengan bekerja keras.

3.    Setelah meletakkan manusia di Taman Eden, Allah langsung memberikan perintah kepadanya. Perintah inilah yang harus dilayani dan dipelihara manusia. Hal ini sesuai dengan kata benda “perintah” dalam bahasa Ibrani yang berbentuk feminin, walaupun kata benda ini tidak muncul di Kejadian 2:15.

 

Pelajaran rohani apa yang kita bisa petik dari renungan kali ini? Tujuan penciptaan manusia adalah bersekutu dengan Allah dan menaati perintah-Nya. Tidak ada hal lain yang lebih mulia daripada hal ini. Hanya ketika manusia bersekutu dengan Pencipta-Nya dan mengenal Dia, manusia bisa merasakan kepuasan hidup yang sesungguhnya. Materi, popularitas, panjang umur, jabatan dan semua hal lain bukanlah tujuan utama mengapa manusia diciptakan. Sebaliknya, kita harus menggunakan semua hal tersebut untuk melayani Allah. Marilah kita belajar mengutamakan waktu untuk bersekutu dengan Allah secara pribadi (saat teduh) maupun ibadah (kebaktian). Marilah kita juga mendorong diri kita untuk terus-menerus mengenal Dia lebih baik melalui embelajaran firman Tuhan (PA). Kiranya Tuhan memberkati kita. #



© 2007 Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Jemaat Exodus | www.gkri-exodus.org
Jl. Nginden Intan Timur 2/5 Surabaya
031-5998458
A Church Where Care, Teaching and Mission Meet Together

Passion 4 Truth !