home

 1 user sedang online
 Anda pengunjung ke-331,857


December 2012
S M T W T F S
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31          

Buah pengetahuan yang baik dan yang jahat (Kejadian 2:17)

Yakub Tri Handoko, M. Th.

 

Kejadian 2:17 merupakan salah satu bagian Alkitab yang menarik. Ayat ini merupakan larangan Allah yang pertama kali dicatat dalam Alkitab. Sebelumya, Alkitab memang sudah menyebutkan beberapa perintah Allah (Kej 1:3, 6, 9, 11, 14, 20, 24, 26, 28), tetapi larangan yang pertama kali disebutkan Alkitab adalah “jangan memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat”. Ironisnya, Kejadian 2:17 juga adalah larangan Allah yang pertama kali dilanggar manusia.

Para sarjana berdebat tentang ayat ini dalam kaitan dengan beberapa hal, misalnya apakah pohon ini adalah pohon sungguhan atau hanya simbolis?; apakah pohon ini adalah jenis pohon tertentu yang khusus ataukah pohon biasa yang dijadikan alat untuk menguji manusia?; apakah maksud “pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”?. Dalam renungan kali ini kita hanya akan menyoroti pertanyaan yang terakhir. Kita akan menyelidiki maksud Allah dalam frase “pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”.

Sebagian sarjana melihat ungkapan di atas merujuk pada pengetahuan seksual. Ada beberapa argumen yang dipakai sebagai pendukung, tetapi pandangan ini memiliki dua kelemahan mendasar. Pertama, pengetahuan tentang yang baik dan jahat di pasal 3:22 (“manusia telah menjadi sama seperti Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat”) ditujukan pada Allah, sedangkan Allah tentu saja tidak bersetubuh secara seksual. Kedua, seandainya ungkapan itu merujuk pada pengetahuan seksual, mengapa Allah melarang manusia untuk memakan buah ini, padahal Allah sebelumnya memerintahkan manusia untuk beranak-cucu (Kej 1:28) dan menjadi satu daging (Kej 2:24; band. Mat 19:4-5; 1Kor 6:16)?

Sebagian sarjana lain menafsirkan pengetahuan tentang yang baik dan jahat ini sebagai kemahatahuan. Ketika manusia memakan buah ini mereka menjadi seperti Allah, yaitu mahatahu (Kej 3:22). Pandangan ini tidak sesuai dengan fakta. Setelah kejatuhan ke dalam dosa manusia tidak menjadi mahatahu. Alkitab juga tidak pernah mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi Allah (apotheosis). Kejadian 3:22 memberi batasan yang jelas tentang “menjadi seperti Allah”, yaitu “mengetahui tentang yang baik dan yang jahat”, bukan “mengetahui segala sesuatu”.

Teori ketiga yang sering diusulkan para sarjana adalah melihat pengetahuan ini sebagai pengetahuan kultural. Mereka berpendapat bahwa setelah manusia memakan buah ini mereka baru bisa mengembangkan peradaban mereka atau dalam istilah lain disebut budaya. Teori ini tampak sangat spekulatif. Tidak ada ayat Alkitab yang menghubungkan pengetahuan tentang yang baik dan jahat dalam konteks kultural.

Teori terakhir yang paling tepat adalah memandang pengetahuan tersebut sebagai otonomi moral. Maksudnya, pengetahuan ini merujuk pada kemampuan manusia untuk memutuskan atau menilai apakah sesuatu adalah baik atau jahat. Teori ini didukung oleh penggunaan frase “yang baik dan jahat” di Pentateukh maupun kitab PL lain. Pertama, dalam Kejadian 24:50b Laban tidak bisa (berhak) mengatakan “yang baik atau buruk” karena dia menyadari bahwa Allah sendiri telah menuntun hamba Abraham untuk bertemu dengan Ribka (Kej 24:50a, band. 45-49). Kedua, dalam Kejadian 31:24 dan 29 Allah melarang Laban mengatai Yakub tentang yang baik dan jahat (semua versi Inggris). Ungkapan ini sayangnya tidak terlihat dalam terjemahan bahasa Indonesia yang memilih tidak mengatai Yakub sepatah katapun. Ketiga, dalam Ulangan 1:39 dikatakan bahwa anak-anak tidak memiliki pengetahuan membedakan yang baik dan jahat. Rujukan ini lebih masuk akal dipahami sebagai ketidakmampuan anak-anak dalam menilai sesuatu secara independen. Keempat, dalam 1Raja-raja 22:18 Ahab menganggap bahwa Mikha tidak pernah menubuatkan yang baik untuk Ahab, sebaliknya hanya yang jahat, padahal nubuat Mikha justru benar-benar berasal dari Allah. Ungkapan ini jelas menunjukkan bahwa “baik atau jahat” di sini adalah berdasarkan penilaian Ahab. 

Pandangan terakhir di atas juga didukung oleh konteks Kejadian 2. Setelah Allah memberikan larangan untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, Allah langsung memberikan contoh konkret bahwa Dialah yang berhak menentukan sesuatu itu baik atau tidak. Allah menilai bahwa kesendirian Adam adalah sesuatu yang tidak baik (Kej 2:8). Adam tidak berhak menilai sesuatu berdasarkan pertimbangan sendiri. Ketika manusia mencoba menilai apa yang baik bagi dirinya, mereka justru telah memilih yang jahat. Hawa jatuh ke dalam dosa setelah dia menilai sendiri bahwa buah pengetahuan yang baik dan jahat adalah baik untuk dimakan (Kej 3:6).

Pelajaran rohani apa yang bisa kita petik dari penjelasan di atas? Kita semua telah berdosa, sehingga seringkali menilai apa yang baik sebagai kejahatan dan apa yang jahat sebagai kebaikan (Yes 5:20). Kita cenderung melakukan apa saja yang menurut kita paling baik, padahal hal itu seringkali bertentangan dengan firman Tuhan. Biarlah kita berdoa seperti Salomo agar Tuhan memberi kita kemampuan untuk membedakan apa yang baik dan jahat menurut cara pandang Tuhan (1Raj 3:9). Kita juga perlu bersandar kepada Tuhan sehingga kita mampu untuk melakukan apa yang benar di mata-Nya (Ul 6:18). Kiranya Tuhan selalu menuntun kita dalam kebenaran-Nya. #



© 2007 Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Jemaat Exodus | www.gkri-exodus.org
Jl. Nginden Intan Timur 2/5 Surabaya
031-5998458
A Church Where Care, Teaching and Mission Meet Together

Passion 4 Truth !