home

 4 user sedang online
 Anda pengunjung ke-111,404


September 2010
S M T W T F S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30    

To be A Blessing is A Blessing

Kisah Rasul 20:27-37

 

Mimbar GKRI Exodus, 18 April 2010

Ev. Tony Budi

 

Nats: Kisah Rasul 20:35 

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

 

 

Pendahuluan

Kita berhadapan dengan salah satu perkataan Tuhan Yesus yang tidak tercatat dalam kitab Injil kanonik. Sekalipun demikian, kita dapat mempercayainya 100% bahwa apa yang tercatat di sini adalah benar-benar merupakan perkataan Tuhan Yesus, dengan beberapa alasan:

 

Pertama: Dalam surat Paulus untuk jemaat Korintus kita mendapat sebuah contoh, jika ada hal yang dikatakannya tapi bukan berasal dari pengajaran Tuhan Yesus sendiri maka dia akan menuliskan sebagaimana dia catat dalam surat 1 Kor.7:12 “Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.” Sebaliknya kalau memang berasal dari Tuhan Yesus maka dia akan menuliskan sebagaimana dicatat Lukas dalam di 1 Korintus 7:10“Kepada orang-orang yang telah kawin aku tidak, bukan aku, tetapi Tuhan perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.”

 

Alasan lainnya, Lukas sebagai penulis Kisah Rasul, dia hidup sejaman dengan para Rasul bahkan dia adalah teman sepelayanan dari Rasul Paulus, oleh karena itu dia pasti sudah banyak mendengar pengajaran Tuhan Yesus entahkah itu langsung dari Tuhan Yesus (ada kemungkinan) ataupun melalui para Rasul (bdk. Lukas 1:2). itu sebabnya jika apa yang dikatakan Paulus bukan dari Tuhan Yesus maka dia pasti bisa mengkoreksinya.

 

Yang tidak kalah penting adalah proses Lukas dalam menuliskan Injilnya dan Kisah Rasul, yaitu dia meneliti / menyelidiki dengan SEKSAMA (secara akurat) semua peristiwa itu dari MULANYA lalu menuliskan Injil Lukas dan Kisah Rasul, selanjutnya diberikan kepada seseorang yang bernama TEOFILUS dengan tujuan agar Teofilus mengetahui bahwa semua yang diajarkan kepadanya oleh para saksi mata dan pelayan Firman itu adalah SUNGGUH  BENAR. (Lukas 1:1-4). Jadi, adalah sesuatu yang bertentangan jika dia memasukkan perkataan tersebut sebagai perkataan Yesus jika memang tidak berasal dari Yesus sendiri.

 

Berikutnya adalah terkait dengan penyelesaian penulisan Kisah Para Rasul yang diperkirakan selesai sebelum kematian Paulus (tahun 64 M), dengan adanya Teofilus yang mempunyai kedudukan sebagai penerima tulisan ini, maka dapat diperkirakan bahwa tulisan ini segera didistribusikan ke banyak daerah lain yang sudah menerima Injil sebagaimana Injil Lukas yang ditulis lebih dulu, itu berarti kebenaran dari isi tulisan ini dapat segera dicek oleh banyak orang yang adalah saksi mata dari pengajaran Tuhan Yesus, khususnya dari kalangan para Rasul sendiri. Fakta bahwa perkataan ini tetap dicantumkan dapat diartikan bahwa tulisan ini dapat diterima oleh semua kalangan tanpa diragukan kebenarannya.

 

Tidak adanya perkataan tersebut dalam kitab Injil kanonik tidaklah mengherankan karena mereka menuliskan masing-masing kitabnya dengan tujuan tertentu. Itu sebabnya semua perkataan Tuhan Yesus yang tidak menunjang tujuan penulisan sudah tentu tidak akan dimasukkannya sekalipun hal itu tidak berarti mengurangi otoritasnya. Selain itu, terbatasnya kapasitas dari gulungan yang ada membuat para penulis tidak bisa menuliskan semua perkataan Tuhan Yesus (bdk. Yoh.20:30-31).

 

Setelah membahas penerimaan di atas, maka tiba saatnya untuk melihat arti sesungguhnya dari perkataan Tuhan Yesus tersebut. Mayoritas versi bahasa Inggris menterjemahkannya: “it is more blessed to give than to receive”

Apakah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus di sini? apakah itu berarti orang yang memberi lebih berbahagia (diberkati) daripada orang yang menerima? Atau orang yang menerima kurang diberkati daripada yang memberi? Ataukah ada arti lainnya? Jika ada, apakah itu?

 

Jika memang memberi lebih berbahagia (diberkati) daripada menerima, pertanyaannya adalah dimanakah letak kebahagiaan (berkatnya?). Tidak adanya konteks yang jelas dalam situasi dan kondisi yang bagaimanakah perkataan Tuhan Yesus ini diucapkan membuat kita hanya bisa membahasnya dalam konteks perikop kita.

 

Yang menjadi kunci untuk memahami perikop ini dengan lebih baik adalah bahwasannya menurut keyakinan Paulus yang sudah melayani di Efesus selama tiga tahun, ini adalah pertemuan terakhir dengan Penatua Efesus... maksudnya mereka tidak akan pernah bertemu Paulus lagi selamanya sampai nanti berjumpa di sorga. itu sebabnya,  dalam pertemuan ini dia mengingatkan bahwa jika sebelumnya dia menggembalakan jemaat Efesus bersama dengan penatua maka sekarang tugas penggembalaan itu ditanggungkan di pundak para penatua (ay.28). Paulus tidak hanya membebankan tugas penggembalaan ini kepada para penatua begitu saja, tetapi dengan memaparkan ayat 18-21 dan ayat 33-35 dia memberikan contoh tentang bagaimanakah cara menggembalakan domba Allah.

Untuk memahami lebih baik bagian ini, saya mencoba untuk membuat struktur sederhana dari perikop ini:

 

a) v. 17 – 21: di sini Paulus memaparkan seluruh pelayanan yang dia lakukan selama di Efesus:

·        melayani Tuhan dengan rendah hati;

·        banyak mencucurkan air mata (sangat mengasihi & bersungguh-sungguh)

·        seringkali mau dibunuh oleh orang Yahudi;

·        sekalipun demikian dia tidak pernah melalaikan pengajaran baik di mimbar maupun di persekutuan rumah tangga; 

·        serta selalu memberitakan Injil kepada orang Yahudi dan Yunani.

 

b) v. 21-27 Paulus memberikan alasan kenapa dia menceritakan ayat 17-21 itu, yaitu karena mulai sekarang dia tidak bisa melakukan hal itu lagi untuk selamanya, karena sekarang dia ditawan oleh Roh Kudus untuk ke Yerusalem bahkan dia meyakini bahwa dia tidak akan bertemu mereka lagi oleh karena itu di ayat 26 dan 27 dia mengatakan bahwa dia bersih dan tidak bersalah atas mereka yang akan binasa karena dia tidak pernah lalai memberitakan maksud Allah.

 

c) v. 28 oleh karena keyakinan akan kematiannya itulah, maka Paulus mengingatkan bahwa tugas penggembalaan jemaat yang tadinya dilakukan oleh Paulus bersama dengan penatua, sekarang harus dilakukan oleh para Penatua sendiri. Paulus juga mengatakan bahwa mereka telah dipilih Allah untuk melakukan tugas penggembalaan. itu sebabnya mereka perlu menjaga diri mereka sendiri dengan ajaran yang murni supaya bisa menjaga seluruh kawanan.  Hal ini perlu ditekankan karena segera setelah kepergiannya, dia meyakini akan datang serangan dari ajaran sesat yang muncul bukan saja dari luar tetapi juga dari antara jemaat sendiri.

 

Itu sebabnya di ayat 31 peringatan untuk berjaga-jaga yang sudah diberikan di ayat 28 diulangi lagi pada ayat ini. Hal ini disebabkan pentingnya tugas penggembalaan yang mereka pikul, karena semua domba Allah diperolehnya dengan darah Anak-Nya sendiri. Jadi ini adalah tugas yang maha penting.

 

d) v.32 karena pentingnya tugas itu maka Paulus perlu menyerahkan mereka kepada Tuhan dan kepada Firman yang berkuasa membangun dan memberikan anugerah untuk pelayanan ini. Hal ini tidak berarti tugas-tugas yang lain selain penggembalaan tidak penting, melainkan karena tugas penggembalaan yang akan mereka pikul ini sangatlah berat tanggung jawabnya.

 

Selanjutnya, di ayat 33-35 Paulus berbicara tentang hal-hal yang praktis dalam penggembalaan dengan maksud memberikan contoh kepada para penatua agar selain menggembalakan secara pengajaran juga memberikan perhatian kepada para domba yang dipercayakan Allah kepada mereka.

 

e) v. 33-35... bahwa dia tidak menginginkan harta jemaat dalam pelayanannya... bahkan dia bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan dia dan teman-temannya (tidak ada penjelasan mengapa dia melakukan ini, tetapi tidak di semua tempat dia melakukannya). Selain itu, dia juga memberikan teladan dalam hal hidup yang tidak egois... yaitu dengan cara membantu mereka yang lemah (sakit)... ada dua hal yang perlu dijelaskan,

 

Pertama: kata ‘lemah’ (dalam bentuk dan kasus yang sama) yang dipakai di sini dalam seluruh PB muncul 3 kali, satu di bacaan kita, lainnya di Yoh.5:3 dan 6:2,  dalam kedua bagian itu, kata yang sama dipakai untuk lemah dalam arti sakit.

 

Jika kita perhatikan konteks di ayat 35 maka kata lemah di sini memang akan lebih tepat jika diartikan sakit. Selain itu, dari tindakan Paulus yang membagi uangnya, kita bisa menyimpulkan bahwa yang sakit di sini juga mengalami kekurangan secara ekonomi.

 

Kedua: Yang harus diperhatikan di ayat 35 di sini adalah bahwa menolong saudara seiman yang sakit bahkan mengalami kekurangan secara ekonomi adalah suatu Keharusan! Tidak boleh tidak! Ini adalah salah satu bentuk Penggembalaan. Dan ini contoh yang diberikan Paulus.

 

Pertanyaan yang perlu kita ajukan adalah apakah bantuan yang kita berikan hanya secara ekonomi atau finansial saja? Saya percaya tidak! Tetapi juga berupa perhatian! Mengapa? Bagaimana kalau yang sakit adalah orang kaya yang tidak terlalu membutuhkan uang? Apakah itu berarti kita abaikan saja??? Jelas tidak! Itu sebabnya bantuan yang dimaksud dalam ayat 35 pastilah bukan hanya dalam rupa uang saja tetapi juga perhatian!

 

Di gereja kita baru satu poin yang sudah sering dilakukan... yaitu secara finansial! Secara perhatian dalam arti memberikan waktunya untuk menjenguk dan memberikan kekuatan.... belum semua majelis terlibat di dalamnya. Ini satu catatan buat para penatua... bahwa saudara dipilih Allah untuk menggembalakan umat-Nya, dan salah satunya adalah dengan memberikan bantuan ekonomi bagi yang sakit dan juga perhatian... jika memang tidak memungkinkan bagi kita untuk menjenguk, maka telepon juga satu bentuk perhatian yang bisa kita berikan. Jadi, tidak cukup jika kita hanya memberi uang dan berdoa di rumah... tapi memberi support dengan cara mendatangi atau telpon itu jauh lebih baik.

 

Tidak berhenti sampai di sini, Paulus juga mengutip perkataan Tuhan Yesus yang tidak terdapat dalam Injil kanonik, adalah “lebih berbahagia (diberkati) memberi daripada menerima” Artinya apa? apakah orang yang memberi itu lebih diberkati daripada orang yang menerima? Saya percaya tidak! Sebab, seandainya tidak ada orang yang “menerima”, maka kita pun tidak akan bisa melakukan pemberian.

 

Begitu juga ketika kita menerima pemberian dari Allah... maka kita akan merasa sangat diberkati oleh Tuhan melalui pemberian itu bukan?

 

Jika demikian, bagaimana kita mengartikannya?:

Warren Wierrsbie memberikan komentarnya demikian: It’s better to share with others than to keep what you have and collect more.. in others words, the blessing does not come in accumulating wealth, but in sharing it.”

 

Jadi, perbandingannya adalah bukan dengan orang yang memberi dan orang yang menerima! Tetapi Tuhan ingin mengatakan kepada orang yang mempunyai uang,... bahwa berkat tidak datang hanya dengan mengumpulkan kekayaan, tetapi dengan membagikannya. Maksudnya adalah sebagai orang kristen kita tidak boleh hanya mengumpulkan uang saja tetapi harus membagikannya kepada orang yang membutuhkan.

 

Jika ada satu perikop dalam Injil Lukas yang mungkin bisa memperjelas artinya maka itu adalah  Lukas 12:16-21.

 

“Kemudian Ia (Yesus) mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, katanya: ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat  di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: inilah yang akan aku perbuat, aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: jiwaku, ada padamu banyak harta tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah, dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri jikalau dia tidak kaya di hadapan Allah.”

 

Hal yang perlu kita ingat dalam berbagi beban adalah bukan supaya orang lain mendapat keringanan tetapi supaya ada keseimbangan antara satu dengan yang lain, sebagaimana dikatakan Paulus:

 

“Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan” ( 2 Korintus 8:13-14)

 

Jika demikian, di manakah letak kebahagiaan / ‘berkat’ dalam ‘memberi?’ bukankah secara umum banyak orang yang berbahagia ketika dia menerima sesuatu daripada memberi sesuatu?

 

Letak kebahagiaannya adalah terletak pada tindakan memberi itu sendiri...maksudnya, Jika pemberian adalah sebuah berkat, maka tindakan memberi itu sendiri adalah sebuah berkat, yaitu dipakai sebagai saluran oleh Allah.

 

Kesimpulan:

Jadi, pada pertemuan terakhir ini, Paulus ingin mengatakan kepada para penatua Efesus bahwa tugas penggembalaan yang tadinya dilakukan bersama dengan para penatua, sekarang tidak dapat lagi dilakukan karena dia akan pergi ke Yerusalem dan tidak akan bertemu dengan mereka lagi, itu sebabnya tanggung jawab penggembalaan diserahkan ke tangan para penatua karena mereka dipilih Allah untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehnya dengan darah Anak-Nya sendiri.

 

Tugas penggembalaan itu sendiri terkait dengan dua hal yaitu pengajaran dan perhatian. Secara pengajaran Paulus sudah membeberkannya di ayat 17-21 sedangkan dalam perhatian dia memberikan contoh untuk membantu saudara-saudara yang tidak hanya sakit tapi juga kekurangan secara ekonomi (v.33-35), tidak hanya bagi mereka yang kekurangan tapi juga perhatian bagi semua jemaat.

 

Aplikasi:

Seringkali para penatua di dalam gereja tidak menyadari bahwa salah satu tugas utama dari penatua adalah bersama dengan gembala sidang menggembalakan sidang jemaat yang diperoleh Allah melalui pengorbanan darah Anak-Nya sendiri. Penggembalaan itu sendiri haruslah secara pengajaran (ayat 17-21) dan perhatian (ayat 33-35).

 

Satu catatan terakhir, ini semua tidak hanya untuk para penatua... tetapi juga untuk semua jemaat... artinya jika para penatua melakukan semua hal di atas maka tidakkah mata jemaat akan melihat hal itu dan meneladaninya? Sebagaimana dikatakan Petrus untuk para penatua 1 Petrus 5:2-3  “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.”

 

Betapa indahnya persekutuan kita jika kita semua belajar melakukan hal ini. Kiranya Tuhan memberkati kita semuanya. #



© 2007 Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Jemaat Exodus | www.gkri-exodus.org
Jl. Nginden Intan Timur 2/5 Surabaya
031-5998458
A Church Where Care, Teaching and Mission Meet Together

Passion 4 Truth !