home

 4 user sedang online
 Anda pengunjung ke-321,525


December 2012
S M T W T F S
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31          

CARA MENGHADAPI UJIAN 2:

MEMINTA HIKMAT KEPADA ALLAH DENGAN IMAN (YAKOBUS 1:5-8)

 

Yakub Tri Handoko, Th. M.

Mimbar GKRI Exodus, 26 Februari 2006

 

 

Setelah mempelajari cara menghadapi ujian (peirasmos) yang pertama, yaitu mempertimbangkan ujian sebagai sukacita (ayat 2-4), kita sekarang sampai pada cara yang kedua, yaitu meminta hikmat kepada Allah dengan iman (ayat 5-8). Hikmat di sini bukanlah kepandaian secara kognitif. Konsep hikmat ini berasal dari kitab-kitab hikmat Yahudi yang berarti “pengertian rohani dari Allah yang memampukan kita tetap hidup dalam kebenaran selama menjalani ujian (band. Ams 1:2-4; 2:10-15; 4:5-9)”.

 

Mengapa Yakobus perlu memberi nasehat seperti ini? Karena penerima surat ini memang menunjukkan sikap tidak berhikmat dalam menghadapi ujian! Mereka menyalahkan Tuhan (1:13-18), mengagungkan golongan kaya (2:1-13, terutama ay. 6-7), memiliki konsep yang salah tentang hikmat (3:13-18).

 

Ayat 6-8 dihubungkan dengan ayat 2-4 melalui kata “kekurangan” (leipetai): tujuan ujian adalah membuat kita tidak kekurangan apapun (ayat 4), tetapi “jika ada yang kekurangan hikmat (ayat 5)”. Ayat 5-8 terdiri dari dua bagian yang menjelaskan meminta hikmat kepada Allah. Pertama, kepastian mendapatkan hikmat (ayat 5). Kedua, syarat mendapatkan hikmat (ayat 6-8). 

 

Kepastian mendapatkan hikmat (ayat 5)

 

Dalam ayat ini Yakobus ingin menekankan kepastian mendapatkan hikmat. Penekanan ini terlihat dari penutup ayat 5 “dan hal itu akan diberikan kepadanya”. Mengapa Yakobus bisa memiliki keyakinan seperti ini? Karena karakter Allah sebagai objek doa kita! Karakter Allah ini dinyatakan dalam bentuk dua kata kerja participle:

 

1.      YANG memberikan kepada semua orang dengan murah hati.

Ada beberapa hal menarik dari bagian ini. Kata “memberikan” memakai present tense, yang menunjukkan tindakan terus-menerus. Tindakan ini juga terbuka untuk semua orang tanpa memandang bulu (band. sikap jemaat yang memandang muka di 2:1-3). Selain itu, pemberian ini juga didasarkan pada kemurahhatian Allah. Betapa berbedanya sikap Allah dengan orang kaya yang suka menahan gaji buruh (5:4) dan bertindak sewenang-wenang (5:6). Merupakan sebuah kesalahan besar apabila jemaat justru meminta “kemurahan” orang kaya dengan cara mengambil hati mereka (2:1-7).

 

2.      YANG tidak membangkit-bangkit.

Terjemahan “tidak membangkit-bangkit” kurang sesuai dengan kata Yunani yang dipakai. Kata oneidizw sebenarnya berarti “mencela”, “mencemooh”, “mengolok-olok” (Mat 5:11; 11:20; 27:44; Mar 15:32; 16:14; Luk 6:22; 1Tim 4:10; Ibr 10:33). Karakter Allah seperti ini tentu saja merupakan penghiburan besar bagi jemaat yang miskin, yang selama ini dihina/direndahkan oleh orang kaya, bahkan oleh saudara seiman lain yang juga miskin (2:1-6). 

 

Syarat mendapatkan hikmat (ayat 6-8)

 

Dilihat dari sisi Allah yang dijelaskan di ayat 5, doa kita pasti akan dijawab. Pertanyaannya adalah apakah kita pantas mendapatkan jawaban doa tersebut? Yakobus di bagian lain juga menjelaskan beberapa doa yang tidak dijawab (1:6-8; 4:2, 3), meskipun doa itu ditujukan pada Allah. Dengan kata lain, apakah kita sendiri telah memenuhi syarat yang ditetapkan Allah supaya doa kita terjawab?

 

Dalam ayat 6-8 Yakobus menjelaskan syarat yang harus kita penuhi, yaitu iman. Berdasarkan perbandingan antara “iman” dengan “kebimbangan” (ayat 6) yang digambarkan seperti gelombang laut dan “mendua hati” (ayat 8), kita nanti akan melihat bahwa “iman” di sini bukan hanya persetujuan intelek maupun perasaan yakin sesaat. Iman di sini mencakup sikap hidup. Sebaliknya, “kebimbangan” dalam konteks ini juga bukan hanya sekedar keraguan sesaat, tetapi sikap hidup yang tidak bersandar kepada Allah secara total.

 

Yakobus membandingkan iman dengan bimbang (diakrinw). Kata kerja diakrinw (dipakai 2 kali di ayat 5) berasal dari dua kata Yunani: dia = melalui dan krinw = menilai/menghakimi. Jadi, kata diakrinw sebenarnya tidak hanya melibatkan perasaan (ragu), tetapi mentalitas berpikir atau sikap hidup (Kis 10:20; 11:2 “berselisih pendapat”, 12; 15:9; Rom 4:20; 14:23; 1Kor 4:7; 11:29, 31; 14:29; Yak 2:4; Yud 1:9, 22). Salah satu contoh adalah sikap Petrus yang bimbang pada saat diundang ke rumah Kornelius (Kis 10:20). Ia bimbang karena bagi orang Yahudi masuk ke rumah orang kafir adalah pantangan besar (Kis 10:28). Tidak heran, Petrus kemudian disidang di Yerusalem (Kis 11:1-3). Kebimbangan Petrus bukan hanya sekedar perasaan, tetapi sikap hidup/mentalitas berpikir.

 

Yakobus juga menggambarkan orang yang bimbang seperti gelombang laut. LAI:TB tidak menerjemahkan satu kata Yunani yang ada di ayat 6, yaitu anemizomenw (“dikendalikan angin”). Ayat 6 seharusnya diterjemahkan “yang dikendalikan angin dan diombang-ambingkan”. Kata kerja participle “dikendalikan angin” dan “diombang-ambingkan” semuanya memakai tense present, yang menyiratkan ide terus-menerus. Penggunaan metafora ini memang dimaksudkan untuk menekankan situasi yang permanen, seperti gelombang laut yang terus-menerus dikendalikan dan diombang-ambingkan angin. Jadi, orang yang bimbang di sini bukan hanya sekedar ragu sesaat, tetapi terus-menerus bimbang (kebimbangan yang telah menjadi sikap hidup).

 

Yang terakhir, Yakobus membandingkan iman dengan orang yang mendua hati (dipsucos). Kata dipsucos secara literal berarti “dua jiwa” (mayoritas versi Inggris memakai “double-minded”). Dalam LXX (Septuaginta) kata dipsucos dipakai untuk orang yang membagi loyalitas (Mzm 12:1-2; 1Taw 12:33). Yakobus juga memakai kata ini di 4:8 untuk orang-orang yang menjadi sahabat dunia, dengan demikian menjadi musuh Allah (4:4). Dari penggunaan kata dipsucos ini jelas terlihat bahwa dipsucos bukan hanya merujuk pada orang yang kadangkala hatinya bimbang, tetapi orang yang memang terus-menerus bimbang.

 

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa iman yang dituntut di sini bukan hanya keyakinan sesaat atau persetujuan intelektual saja, tetapi persandaran hidup. Orang yang akan mendapat hikmat adalah mereka yang memiliki sikap hidup mau bersandar secara total pada Allah. Situasi sulit memang seringkali mendorong kita memilih dosa sebagai jalan keluar, tetapi kita harus memiliki sikap hidup “apapun yang terjadi aku tidak akan melanggar Firman Tuhan”. Kalau kita mengambil sikap hidup seperti ini, Allah pasti akan memberikan hikmat di tengah situasi yang sulit seperti apapun. Hikmat pasti diberikan, namun pertanyaannya adalah “Apakah kita mau bersandar secara total kepada Allah dalam situasi sesulit apapun?” Kiranya Allah memampukan kita untuk tetap hidup dalam kebenaran sekalipun di tengah situasi yang sulit. Amin.#



© 2007 Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Jemaat Exodus | www.gkri-exodus.org
Jl. Nginden Intan Timur 2/5 Surabaya
031-5998458
A Church Where Care, Teaching and Mission Meet Together

Passion 4 Truth !