home

 1 user sedang online
 Anda pengunjung ke-321,346


December 2012
S M T W T F S
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31          

Pencobaan bukan berasal dari TUHAN (Bagian 2) Yakobus 1:14-15

 

Yakub Tri Handoko, Th. M.

Mimbar GKRI Exodus, 23 April 2006

 

 

Pada bagian sebelumnya Yakobus sudah membahas alasan pertama mengapa ketika kita jatuh ke dalam dosa kita tidak boleh menyalahkan Allah, yaitu Allah tidak mungkin memberikan sesuatu yang jahat kepada manusia (ayat 13b). Kita mungkin berharap ia selanjutnya akan menyalahkan Iblis sebagai sumber pencobaan, ternyata ia tidak melakukan itu. Walaupun ia menyadari keberadaan Iblis di balik dosa manusia (3:15; 4:7), namun dalam bagian ini ia justru lebih memfokuskan perhatian pada diri manusia. Di ayat 14-15 ia menambahkan alasan lain mengapa pencobaan bukan berasal dari Allah, yaitu manusia dicobai oleh keinginannya sendiri.

 

Ayat 14 dimulai dengan kata sambung “tetapi” (de), yang menyiratkan kontras antara ayat 14-15 dengan ayat 13. Sumber pencobaan bukanlah Allah, tetapi keinginan dalam diri manusia. Untuk mempertegas hal ini, ia menempatkan kata “sendiri” (idias) di depan kata “keinginan”. Seakan-akan ia ingin mengatakan, “kamu sendiri! Ya, keinginan kamu sendiri itu yang mencobai engkau!” 

 

kata “keinginan” (epiqumia) bisa berarti keinginan yang netral/positif (Luk 22:15; Fil 1:23; 1Tes 2:17), tetapi dalam konteks Yakobus 1:14-15 epiqumia jelas memiliki arti negatif. Epiqumia di sini lebih tepat diterjemahkan hawa nafsu (KJV “hawa nafsu”; NIV “keinginan yang jahat”), sama seperti epiqumia di 1Petrus 2:11 maupun 1Yohanes 2:17. Philo, seorang ahli tafsir dan filsuf Yahudi pada abad ke-1 M, juga pernah menyinggung epiqumia terhadap uang, kebesaran dan kemudahan hidup telah menjadi penyebab peperangan bangsa-bangsa.

 

Bentuk tunggal yang dipakai untuk “hawa nafsu” di sini merupakan hal yang menarik untuk diperhatikan. Yakobus tampaknya sedang memikirkan suatu kekuatan negatif dalam diri manusia, yang oleh para rabi Yahudi disebut dengan istilah yetzer. Dalam teologi Yahudi, yetzer pada dirinya sendiri bukanlah dosa, tergantung pada apa yang memimpin yetzer itu. Seandainya manusia membiarkan yetzer tersebut, maka itu akan menghasilkan dosa. Untuk menjaganya, Allah memberikan Taurat dan dorongan yang baik dalam diri manusia. Dalam teologi Kristen, hawa nafsu dilihat dalam kaitan dengan natur manusia yang sudah tercemar dan dikuasai oleh dosa (Ef 2:1-3). Satu-satunya solusi bagi masalah ini adalah penebusan Kristus yang mengalahkan kuasa dosa (Rom 6:11-14; 7:24-25) dan pimpinan Roh Kudus dalam diri kita (Rom 8:5-6).

 

Yakobus selanjutnya menerangkan bagaimana hawa nafsu bisa berubah menjadi dosa dan akhirnya menghasilkan maut. Seperti biasa, ia menggunakan metafora yang umum di kalangan orang Yahudi. Pertama-tama ia memakai metafora pemancingan ikan (ayat 14), setelah itu ia berpindah ke metafora pertumbuhan manusia (ayat 15). 

 

Metafora pemancingan ikan (ayat 14)

 

Kata “diseret” (exelkw) dan “dipikat” (deleazw) merupakan kata umum dalam penangkapan ikan. Yakobus yang tinggal berasal dan besar di daerah Galilea pasti tidak asing dengan dunia penangkapan ikan. Umpan pada kail harus dipilih yang semenarik mungkin, sehingga ikan-ikan akan tergoda untuk memakannya (band. Kej 3:6 “ia melihat...baik untuk dimakan...sedap kelihatannya...menarik hati”). Pada saat umpan tersebut dimakan oleh ikan dan ikan itu terikat pada kail, ia selanjutnya akan ditarik ke luar (exelkw berasal dari kata ek = keluar dan elkw = menarik) dari dalam air. Metafora ini menggambarkan betapa menariknya dosa dan tidak berdayanya seseorang di hadapan dosa. Dosa akan membawa orang tersebut ke mana saja ia mau.

 

Walaupun dua istilah di atas berasal dari dunia penangkapan ikan, tetapi kemungkinan besar metafora ini sudah begitu umum dan lama dipakai, sehingga pada abad ke-1 M orang-orang cenderung hanya menggunakannya dalam arti rohani, tanpa menekankan proses detil penangkapan ikan. Dugaan ini dapat dilihat dari dua hal. Kata exelkw dan deleazw juga dipakai oleh Philo dan Petrus (2Pet 2:14, 18), meskipun mereka tidak sedang menggunakan metafora penangkapan ikan. Selain itu, dalam hal penangkapan ikan seharusnya deleazw (“memikat”) dulu baru exelkw (“menarik ke luar”), tetapi Yakobus 1:14 memakai exelkw dulu baru deleazw.

           

 

Metafora pertumbuhan manusia (ayat 15)

 

Terjemahan LAI:TB “berbuah...matang” di ayat 15 memberi kesan bahwa Yakobus menggunakan metafora dari bidang pertanian. Kesan ini tidak sesuai dengan konteks ayat 15. Penyelidikan yang lebih teliti menunjukkan bahwa metafora di ayat ini bukan berasal dari dunia pertanian. Kata “melahirkan” di ayat ini jelas merujuk pada proses persalinan, sehingga “berbuah” di ayat ini juga berhubungan dengan pembuahan janin. Selain itu, kata apotelew (LAI:TB “matang”) dalam konteks ini seharusnya diterjemahkan “berkembang dengan penuh” (dalam arti “dewasa” atau “tua”). 

 

Ada dua kemungkinan mengapa Yakobus menggunakan metafora pertumbuhan manusia di sini. Ia mungkin sedang memakai gambaran tentang perempuan dursila di Amsal 5-9 yang dipakai untuk dosa (band. Ams 7:6-23). Selain itu, kata epiqumia dalam tata bahasa Yunani memang berjenis kelamin feminin, sehingga Yakobus merasa cocok untuk menghubungkannya dengan proses pembuahan janin dan kelahiran bayi. 

 

Apakah ada perbedaan antara inti metafora di ayat 14 dan 15? Ya! Kalau metafora di ayat 14 hanya menjelaskan proses dari hawa nafsu menjadi dosa, metafora di ayat 15 menjelaskan proses dari hawa nafsu sampai maut. Dengan kata lain, ayat 15 lebih menekankan akibat yang dihasilkan oleh dosa daripada proses terjadinya dosa itu sendiri. Proses di ayat 15 dapat dijelaskan sebagai berikut: hawa nafsu dibuahi à ia melahirkan dosa à dosa akan terus bertumbuh sampai dewasa/tua à berakhir pada maut. 

 

Yang ingin diajarkan melalui metafora terakhir ini adalah bahaya jika kita tidak mengontrol keinginan kita. Hal ini bisa menimbulkan dosa dan dosa ini akan terus-menerus berkembang sampai pada akhirnya menghasilkan maut. Dengan kata lain, suatu dosa akan berkembang menjadi dosa-dosa yang lain. Contoh yang paling jelas adalah dosa Daud ketika berzinah dengan Betsyeba, istri Uria (2Sam 11-12). Dari keinginan mata – perzinahan – kebohongan – pembunuhan. Kita harus berhati-hati dengan dosa sekecil apapun, karena dosa itu akan membuat kita tidak berdaya dan pada akhirnya bertambah serius sampai berujung pada maut. 

 

Dari keseluruhan proses yang digambarkan dalam metafora di atas kita bisa melihat bahwa Allah sama sekali tidak terlibat dalam dosa manusia. Dosa merupakan pilihan manusia sendiri. Keinginan memang tidak selalu negatif (berdosa). Bagaimana orang menguasai keinginan dalam dirinya itulah yang menentukan apakah epiqumia berarti sekedar keinginan (yang positif) atau hawa nafsu (yang negatif). Allah tidak bisa disalahkan ketika manusia jatuh ke dalam pencobaan.#



© 2007 Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Jemaat Exodus | www.gkri-exodus.org
Jl. Nginden Intan Timur 2/5 Surabaya
031-5998458
A Church Where Care, Teaching and Mission Meet Together

Passion 4 Truth !