home

 1 user sedang online
 Anda pengunjung ke-321,281


December 2012
S M T W T F S
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31          

Berkat Tuhan Dalam Keluarga (Mazmur 127)

 

Sebuah keluarga hanya bisa menjadi berkat bagi orang lain dan gereja apabila keluarga tersebut menyadari bahwa semua yang mereka miliki adalah berkat Tuhan. Dengan kata lain, sebelum memberkati orang lain, sebuah keluarga harus diberkati lebih dahulu. Kotbah minggu ini akan membahas betapa berkat Tuhan merupakan pusat dan dasar bagi sebuah keluarga.

 

Pengantar Mazmur 127

Sebagian sarjana berpendapat bahwa mazmur ini mula-mula terdiri dari dua mazmur yang terpisah, masing-masing ayat 1-2 dan ayat 3-5. Pada suatu waktu tertentu seorang editor menggabungkan dua mazmur itu menjadi Mazmur 127. Pendapat ini tampaknya kurang tepat. Ayat 1-2 dan ayat 3-5 memiliki tema yang sama, yaitu tentang keluarga (“rumah” di ayat 1 adalah rumah tangga). Selain itu, ayat 1 dan 5 membentuk sebuah inclusio: ayat 1 “kota”, ayat 5 “pintu gerbang [kota]”.

 

Para sarjana juga berbeda pendapat tentang latar belakang pemakaian mazmur ini. Sebagian menduga mazmur ini dipakai waktu Hari Raya Penahbisan Bait Allah. Dugaan ini didasarkan pada catatan editor mazmur di ayat 1 “nyanyian ziarah”, yang memang merujuk pada penggunaan untuk hari raya di Yerusalem. Kata “rumah” di ayat 1 juga dianggap merujuk pada rumah Allah (Bait Allah). Sebagian sarjana berpendapat mazmur ini dinyanyikan waktu ucapan syukur kelahiran seorang anak (terutama anak laki-laki). Dua pandangan di atas sebenarnya bisa diharmonisasikan, karena banyak mamzur memang dibuat untuk tujuan tertentu yang sempit, pribadi dan spesifik, tetapi dalam penggunaannya selanjutnya dipakai secara komunal (bersama-sama).

 

Inti Mazmur 127 terletak pada peranan Tuhan yang sentral dalam sebuah keluarga. Semua hal yang berhubungan dengan keluarga ditentukan oleh Tuhan. Mazmur ini mengajarkan pentingnya sebuah keluarga untuk menyandarkan diri pada Tuhan dalam segala hal. 

 

Tangan Tuhan dalam segala yang dilakukan (ayat 1-2)

 

Inti ayat 1-2 terlihat dari pengulangan kata “sia-sia” yang muncul 3 kali. Pemazmur ingin menyatakan tentang betapa pentingnya Tuhan dalam segala hal. Hal-hal apa saja yang disinggung pemazmur dalam bagian ini?

 

Pertama, kesia-siaan pembangunan rumah tanpa Tuhan (ayat 1a). Kata Ibrani “rumah” (bayit) bisa merujuk pada istana (rumah raja), bait Allah (rumah Tuhan), gedung (rumah secara fisik) maupun rumah tangga/keturunan. Dalam konteks Mazmur 127, arti yang terakhir ini tampaknya yang paling tepat. Ayat 3-5 berbicara tentang sebuah keluarga/keturunan. Pemazmur juga menggunakan permainan bunyi untuk menunjukkan bahwa rumah di ayat 1 adalah keluarga/keturunan di ayat 3-5, yaitu kata “membangun” (banah) dan “anak-anak laki-laki” (banim). Arti sebagai “keluarga” juag didukung oleh beberapa teks lain: Kejadian 16:2 (keturunan = rumah), 30:3 (keturunan = rumah), Keluaran 1:21, Mazmur 115:10, 12 (kaum = rumah).

Kedua, kesia-siaan mengawal kota tanpa Tuhan (ayat 1b). Pada jaman dahulu keamanan sebuah kota ditentukan oleh dinding kota yang kuat, menara pengawal yang tinggi (Rat 4:17; Hab 2:1), tentara yang besar jumlahnya dan letak suatu kota yang berada di daerah pegunungan. Dari semua kriteria ini, kota Yerusalem bisa dianggap sebagai kota yang paling ideal. Kota ini terletak di pegunungan Yudea (band. Luk 1:65; 10:30) dan memiliki menara pengawal (Rat 4:17; Hab 2:1). Salomo, penulis Mazmur 127, juga memiliki banyak kapal, perisai, kuda dan penunggangnya (2Taw 9:15-16, 21, 25-28). Walaupun memiliki semua yang diperlukan untuk menjamin keamanan suatu kota, Salomo tetap menyadari pentingnya tangan Tuhan di dalamnya, karena Tuhan adalah penjaga sesungguhnya yang menciptakan langit dan bumi serta tidak pernah lengah (Mzm 121:4).

Ketiga, kesia-siaan kerja keras tanpa Tuhan (ayat 2). Bangsa Israel sangat paham bahwa keberhasilan pekerjaan mereka (pertanian) sangat ditentukan oleh ketaatan mereka kepada Tuhan. Kalau mereka tidak taat, Tuhan akan mengirimkan mengirimkan bangsa lain untuk menjajah dan merampas hasil pertanian mereka (Im 26:16). Tuhan akan membuat tanah yang ditanami menjadi tidak subur (Im 26:19-20). Tuhan juga akan mengirim hama tertentu untuk menghabiskan hasil panen mereka (Ul 28:38). Bangsa-bangsa kafir kuno juga menyadari pentingnya campur tangan dewa/dewi tertentu dalam keberhasilan panen mereka. Tidak heran, hampir setiap bangsa waktu itu memiliki dewa/dewi kesuburan masing-masing.

 

Ayat 2b diterjemahkan secara berbeda dalam berbagai versi. Sebagian menerjemahkan “Tuhan memberikan tidur pada yang dikasihi-Nya” (NRSV), sedangkan yang lain memilih “Tuhan memberikan pada orang yang dikasihi-Nya pada waktu tidur” (NIV/NASB/LAI:TB). Seandainya terjemahan #1 benar, maka yang dimaksud adalah Tuhan memberikan ketenangan (“tidur”) pada orang dikasihi sehingga mereka tidak terlalu kuatir dengan hidup mereka. Seandainya terjemahan #2 yang benar, maka itu berarti Tuhan memberikan apa yang diusahakan orang fasik kepada orang yang dikasihi-Nya (Ams 10:22 “berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya; Yak 4:13-16). 

 

Dari sisi konteks, terjemahan #1 lebih bisa diterima. Ungkapan “duduk-duduk sampai jauh malam” mengindikasikan ketidaktenangan dan kekuatiran terhadap hari esok. Setelah pagi sampai sore orang itu bekerja keras, malam harinya ia tetap berpikir keras tentang pekerjaannya. Selain itu, alasan lain terletak di ayat 2b “makan roti yang diperoleh dengan susah payah”. Frase ini menunjukkan bahwa orang itu tetap memperoleh apa yang ia kerjakan, tetapi ia tidak bisa menikmatinya dengan sukacita.

  

Contoh tangan Tuhan dalam membangun keluarga (ayat 3-5)

Dalam teks Ibraninya, ayat 3 dimulai dengan seruan “lihatlah” (semua versi Inggris, kecuali NIV). Seruan ini mungkin bertujuan untuk mengarahkan pembaca pada hal yang lebih spesifik sebagai contoh dari apa yang ditulis di ayat 1-2. Pemazmur menyinggung tentang kepemilikan anak-anak laki-laki dan buah kandungan. Dalam tradisi Yahudi waktu itu, memiliki banyak anak dianggap sebagai tanda seseorang diberkati atau diperkenan Tuhan (Kej 1:28), apalagi kalau anak itu adalah seorang laki-laki (band. 1Sam 1:8). Laki-laki Yahudi setiap hari bersyukur kepada Tuhan yang telah menjadikan mereka sebagai laki-laki, bukan perempuan. Hal ini bisa dipahami karena bangsa Yahudi menganut budaya paternalistik. Laki-laki adalah penerus nama dan harta keluarga. Selain itu, situasi kuno yang diwarnai banyak peperangan menjadikan kebutuhan terhadap laki-laki sangat tinggi.

 

Pentingnya anak laki-laki digambarkan seperti anak-anak panah di tangan pahlawan (ayat 3-4a). Sebagaimana anak-anak panah berguna dalam peperangan jarak jauh, anak laki-laki juga akan berguna pada hari depan. Pemazmur secara khusus menyebut anak-anak laki-laki pada masa muda (ayat 4, LAI:TB). Terjemahan ini sekilas menyiratkan masa muda anak-anak laki-laki itu. Menurut teks Ibraninya, “masa muda” di ayat ini merujuk pada masa muda orang tuanya (NASB/RSV/NRSV = the sons of one’s youth). Orang yang memiliki anak laki-laki pada saat ia masih muda akan menjadi orang yang berbahagia, karena anaknya itu sudah menjadi dewasa dan sanggup menjaga dia pada saat dia sudah tua.

 

Salah satu contoh dari kebahagiaan di masa tua itu adalah bantuan anak ketika orang tua menghadapi suatu masalah hukum. Kata “musuh” dan “pintu gerbang” merujuk pada proses hukum yang dijalani seseorang yang sedang dituntut/dituduh musuhnya. Menurut budaya waktu itu, pintu gerbang kota merupakan pusat kehidupan, karena di sinilah orang melakukan transaksi hukum (Ruth 4:1-12) dan memutuskan suatu perkara (Ul 17:5; 21:18-21; Yos 20:4; Mzm 69:12; Amos 5:12). Ketika seseorang dituduh oleh musuhnya, ia akan merasa beruntung kalau ia memiliki anak laki-laki, karena kesaksian laki-laki lebih diterima daripada wanita.

  

Aplikasi

Melalui kotbah kali ini, biarlah setiap kita menyadari betapa perlunya kita bergantung kepada Tuhan dalam segala sesuatu. Semua yang kita miliki adalah berkat Tuhan semata-mata, baik itu keluarga, keamanan, hasil pekerjaan maupun anak-anak. Semua bukan milik kita, tetapi pemberian Tuhan. Biarlah kita juga menggunakan semua berkat itu untuk melayani Tuhan dan sesama kita. Sudahkah Saudara memberikan tenaga, waktu, pikiran dan materi yang terbaik untuk Tuhan? Ingat, kita diberkati untuk memberkati. Kiranya Tuhan menolong kita. #



© 2007 Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Jemaat Exodus | www.gkri-exodus.org
Jl. Nginden Intan Timur 2/5 Surabaya
031-5998458
A Church Where Care, Teaching and Mission Meet Together

Passion 4 Truth !